ULUMUL HADITS

 ULUMUL HADITS

 

Hadis ditinjau dari kuantitas perawi sanadnya, menurut DR Muhammad Ajjaj Al-Khatib dalam bukunya Ushul Al-Hadis dibagi menjadi tiga, yaitu: Mutawatir, Masyhur dan Ahad. [1] Namun kebanyakan ulama membaginya menjadi dua, yaitu: Mutawatir dan Ahad, sedang hadis masyhur dimasukkan pada bagian hadis ahad.

 

A.Hadis Mutawatir

1.Pengertian

Menurut etimologi, mutawatir berarti mutatabi’ (yang berturut-turut) tanpa jarak. Menurut terminologi mutawatir didefinisikan dengan:

ما رواه جمع تحيل العادة تواطؤهم على الكذب عن مثلهم من اول السند الى منتهاه على ان لا يختل هذا الجمع في اي طبقات السند

Hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak, mustahil menurut adat mereka bersepakat untuk melakukan kedustaan. Hal serupa itu terjadi sejak awal sanadnya hingga akhirnya dan tidak cedera kuantitas orang tersebut (dengan berkurangnya jumlah periwayatnya) dalam setiap thabaqah (tingkatan generasi periwayatnya).

Nur ad-din ‘itr memberikan definisi yang lebih tegas tehadap pengertian hadis mutawatir sebagai berikut:

الذي رواه جمع كثير لا يمكن تواطؤهم على الكذب عن مثلهم الى انتهاء السند و كان مستندهم الحس

Hadis yang diriwayatkan orang banyak yang tidak mungkin mereka sepakat untuk berdusta. Hal serupa itu terjadi sejak awal sanad hingga akhir sanad. Hal itu didasarkan pada pengamatan panca indra. [2]

2.Syarat-syarat hadis mutawatir

dengan definisi diatas, dapat dipahami bahwa suatu hadis bias dikatakan mutawatir apabila telah memnuhi empat syarat, yakni:

 

a.Jumlah perawinya harus banyak

.           Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan jumlah minimalnya dan menurut pendapat yang terpilih minimal sepuluh perawi. Para ulama berbeda pendapat tentang batasan yang diperlukan untuk tidak memungkinkan bersepakat berdusta:

1.Abu at-thayyib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang dikiaskan dengan banyaknya saksi yang diperlukan hakim untuk memvonis terdakwa.

2.Ashab asy-syafii menentukan 5 orang diqiaskan dengan 5 orang rasul yang mendapat gelar ulul’azmi.

3.Ulama lain ada yang berpendapat mesti 20 orang, mengingat Allah memberi sugesti kepada orang-orang mukmin yang tahan uji dalam surah Al-Anfal 65:

وان يكن منكم عشرون صابرون يغلبوا مائتين

4.Semantara ada juga ulama yang menetapkan sekurang-kurangnya 40 orang, dikiaskan dengan firman Allah, Al-Anfal 64:

يايها النبي حسبك الله ومن اتبعك من المؤمنين

Keadaan orang mukmin ketika itu baru 40 orang. Jumlah sekian itulah jumlah minimal yang dijadikan penolong setia dalam mencapai tujuan dakwah.

Sebenarnya, persoalan prinsip yang dijadikan ukuran untuk menetapakan sedikit-banyaknya perawi itu tidak terbatas pada jumlah tertentu, tetapi diukur dengan tercapainya ilmu dharuri. Walaupun jumlah rawi-rawi itu tidak banyak sekalipun, selama daapat memberi kesan bahwa berita yang mereka sampaikan itu meyakinkan, hadis itu sudah dapat dimasukkan sebagai hadis mutawatir. [3]

b.Perawi yang banyak ini harus terdapat pada setiap thabaqat (generasi) sanad.

c.Secara rasional dan menurut kabiasaan (adat), para perawi tersebut mustahil sepakat untuk berdusta.

d.Sandaran beritanya

adalah panca indra dan itu ditandai dengan kata-kata ynag digunakan dalam meriwayatkan sebuah hadis, seperti kata سمعنا )kami telah mendengar(, راءينا )kami telah melihat(, لمسنا )kami telah menyentuh( dan lain sebagainya.

3.Nilai hadis mutawatir

Hadis mutawatir mengandung nilai dharury, yakni suatu keharusan bagi manusia untuk mengakui kapasitas kebenarannya. Semua hadis mutawatir bernilai maqbul (dapat diterima sebagai dasar hukum) dan tak perlu lagi diselidiki keadaan perawinya. [4]

4.Macam-macam hadis mutawatir

Hadis mmutawatir terdiri dari 2 macam, yaitu mutawatir lafzhi dan  mutawatir ma’nawi. Namun ada juga ulama yang membaginya kepada tiga bagian dengan menambahkan hadis muatawatir amali, yaitu sesuatu yang diketahui dengan mudah bahwa ia dari agama dan telah mutawatir di kalangan umat islam bahwa Nabi Saw mengajarkannya dan menyuruhnya atau selain dari itu. Dari hal itu dapat dikatakan soalyang telah disepakati. Contohnya adalah berita tentang waktu dan rakaat shalat, shalat jenazah, shalat ied, hijab perempuan yang bukan mahram, kadar zakat dan segala rupa amal yang telah menjadi kesepakatan [5]

من كذب علي متعمدا فليتبواء مقعده من النار

“Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah bersiap-siap

untuk mengambil tempat di neraka”

Hadis di atas diriwayatkan lebih dari 70 sahabat. [6] Sebagian ulaama lain mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh 62 orang sahabat denagn susunan redaksi dan makna yang sama. Demikian juga hadis:

ان هذا القران انزل على سبعة احرف

“Sungguh al-Quran ini diturunkan dengan tujuh huruf (tujuh macam bacaan)”

Hadis ini diriwayatkan berpuluh-puluh sahbat dengan redaksi dan makna yang sama. [7]

b.Mutawatir ma’nawi adalah hadis mutawatir yang menyangkut amal perbuatan nabi. artinya, perbuatan Nabi yang diriwayatkan oleh orang banyak kepada orang banyak lagi.

Misalnya beberapa hadis tentang perbuatan Nabi mengangkat tangan pada waktu berdoa. Hadis tersebut diriwayatkan sebanyak lebih kurang 100 macam hadis dengan redaksi berbeda. namun semuanya memiliki qadar musytarak (titik persamaan), yakni keadaan nabi mengangkat tangan ketika berdoa. [8]

5.Keberadaan hadis mutawatir

Karena syarat-syarat hadis mutawatir itu demikian ketatnya, sebagian ulama seperti Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menganggap hadis mutawatir itu tidak mungkin ada ditemukan. Ibnu Shalah berpendapat bahwa hadis mutawatir memang ada, hanya jumlahnya sangat sedikit. [9]

Imam An-Nawawi mengatakan bahwa hadis mutawatir lafzhi sangat sedikit jumlahnya. Ibnu Hajar al-asqalani menegaskan, orang yang mengatakan hadis mutawatir tidak ada atau sangat sedikit terjadi, karena kurang mengetahi jalan atau keadaan para rawi. Beberapa hadis mutawatir yang popular, yaitu hadis menyapu khuf, azab kubur, bilangan rakaat dalam shalat, melempar jumrah, melakukan sai antara shafa dan marwah, syafaat dan air memancar dari celah-celah jari Nabi.

Untuk memudahkan menemukan hadis mutawatir, beberapa kitab telah tersusun, diantaranya Al-azhar Al-Mutanatsirah fi Al-akhbar Al-mutawatirah karya As-suyuthi yang berisikan 112 buah hadis; Nazhm al-mutanatsir min al-hadits al-mutawtir karya Muhammad bin Ja’far al-kattani yang memuat 310 hadis Nabi SAW.

[10]

B.Hadis masyhur

1.Pengertian

Menurut bahasa kata masyhur berbentuk isim maful dari kata syahara al-amru yang berarti sesuatu yang telah terkenal setelah disebarluaskan dan ditampakkan di permukaan.

 

 

Menurut istilah, hadis masyhur adalah suatu hadis yang dalam setiap thabaqatnya diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih dan belum mencapai derajat mutawatir:

مارواه الثلاثة فاكثر ولم يصل درجة التواتر

 Seperti hadis nabi SAW:

ان الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد

“sesungguhnya Allah tidak akanmenggenggam ilmu pengetahuan dengan mencabutnya dari para hamba.

 

 

2.Hadis mustafidh

Menurut bahasa kata mustafidh berbentuk isim fail dari kata istafadha, kata pecahan dari  fadha yang artinya sesuatu yang tersebar. Menurut istilah, definisi hadis mustafidh ada 3 pendapat: pertama, hadis mustafidh searti dengan hadis masyhur. Kedua, mustafidh lebih khusus daripda masyhur, karena bagi mustafidh disyaratkan jumlah perawi pada ujung sanadnya sama, yakni pada awal dan akhir sanad terdiri dari tiga perawi, sedang mashur tidak. Ketiga, kebalikan pendapat kedua. [11]

Ulama yang membedakan hadis mustafidh dengan masyhhur ini, mendefinisikan hadis mustafidh sebagai berikut:

ما يكون من ابتداءه وانتهائه سواء لا ينقص من ثلاثة

“Mustafidh adalah khabar yang dari permulaannya sampai kesudahannya bersamaan tidak kurang dari 3 orang”, Sedang hadis masyhur lebih umum dari itu. Ulama lain, Ibn Al-Hajib berkata:

ما زاد نقلته على ثلاثة

“hadis mustafidh adalah hadis yang penukilannya lebih dari 3 orang”

Bahkan Ash-shairafi menjelaskan bahwa hadis mustafidh semakna dengan hadis mutawatir. [12]

3.Pengertian lain tentang hadis masyhur

Yang dimaksud disini ialah hadis masyhur dipahami sebagai suatu hadis yang dikenal dikalangan para ahli ilmu tertentu atau dikalangan masyarakat umum tanpa mengetahui ketentuan syarat diatas, yakni banyaknya rawi yang meriwayatkannya sehingga kemungkinan hanya mempunyai satu jalur sanad saja atau mempunyai banyak jalur sanad atau bahkan tidak berasal sama sekali.

4.Macam-macam hadis mayhur

a.Masyhur menurut ahli hadis saja, seperti hadis yang diriwatkan  Anas r.a:

قنت النبي صلى الله عليه وسلم بعد الركوع شهرا يدعو على رعل و ذكوان

“bahwa nabi pernah membaca doa qunut setelah ruku’ selama satu bulan untuk mendoakan keluarga ri’il dan dzakwan”

 

b.Masyhur menurut ahli hadis, ulama lain dan masyarakat umum, seperti hadis:

المسلم من سلم المسلمون من لسانه و يده

“seorang muslim adalah orang yang menyelamatkan sesama orang muslim dari gangguan lisan dan tangannya”

c.Masyhur menurut ulama fiqh, seperti hadis:

ابغض الحلال الى الله الطلاق

“perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah thalaq”

Hadis lain seperti:

لا صلاة لجار المسجد الا فى المسجد

“Tidak sah sembahyang bagi orang berdekatan dengan masjid kecuali sembahyang di masjid”

Para muhadditsin tidak banyak meriwayatkan hadis ini, bahkan para hafiz mendhaifkannya. Walaupun demikian, Para fuqaha tetap memasyhurkannya.

d.Masyhur menurut ulama ushul fiqh, seperti hadis:

رفع عن امتي الخطاء والنسيان ومااستكرهوا عليه

“terangkat (dosa) dari umatku, kekeliruan, lupa dan perbuatan yang mereka kerjakan karena terpaksa”

e.Masyhur menurut ulama nahu, seperti hadis:

نعم العبد صهيب لو لم يخف الله لم يعصه

“sebaik-baiik hamba adalah shuhaib, walaupun dia tidak takut Allah, dia tidak berbuat maksiat”

f.Masyhur menurut masyarakat umum, seperti hadis:

العجلة من الشيطان

“sikap tergesa-gesa adalah sebagian dari (pebuatan) syaithan.”

Hadis lain:

للسائل حق وان جاء على فرس

“Bagi sipeminta-minta itu ada hak walaupun datang dengan kuda”

Hadis lainnya:

يوم نحركم يوم صومكم

“Hari raya kurbanmu itu adalah hari puasamu sekalian”

5.Hukum hadis masyhur

Hukum hadis masyhur adakalanya shahih, hasan, atau dhaif  bahkan ada yang bernilai maudhu’.[1][13] Masyhur adalah lawan kata majhul, yaitu hadis-hadis yang diriwayatkan oleh orang-orang yang tidak terkenal di kalangan ulama. Sebagian ulama menamakan hadis masyhur semua hadis yang telah populer di masyarakat, walaupun tidak mempunyai sanad sama sekali, baik ia shahih, hasan, dhaif atau dusta sekalipun. Hadis masyhur menurut ulama hanafiah menghasilkan ketenangan hati, dekat kepada meyakinkan dan wajib diamalkan. Namun orang yang menolaknya tidak dihukumkan kafir.[2][14]

 

C.Hadis Ahad

1.Pengertian

Menurut bahasa kata al-ahaad bentuk plural dari kata ahad yang berarti satu. Menurut istilah, hadis ahad adalah:

مالا يجتمع فيه شروط التواتر

“hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk menjadi hadis mutawatir”

Definisi ini cenderung mengikuti pendapat yang membagi hadis hanya kepada dua saja, yaitu mutawatir dan ahad. Adapun ulama yang membagi hadis kepada mutawatir, masyhur dan ahad, mendefinisikannya sebagai berikut:

مارواه الواحد اوالاثنان فاكثر مما لم تتوافر فيه شروط المشهور او المتواتر

“Hadis yang diriwayatkan oleh satu orang, dua orang atau lebihtetapi tidak memenuhi syarat masyhur dan mutawatir”

2.Nilai hadis ahad

Hadis ahad memiliki nilai nazhary, yakni ia masih merupakan ilmu yang memerlukan penyelidikan dan pembuktian lebih lanjut.  Para ahli hadis berbeda pendapat tentang kedudukan hadis ahad. Pendapat tersebut antara lain:

a.Segolongan ulama, seperti al-qasayani, sebagian ulama zhahiriah dan ibn dawud mengatakan kita tidak wajib beramal dengan hadis ahad.

b.Jumhur ulama ushul menetapakan bahwa hadis ahad member faedah zhan. Oleh karena itu, hadis ahad wajib diamalkan sesudah diakui keshahihannya.

c.Sebagian mereka mengatakan hadis ahad diamalkan dalam segala bidang.

d.Sebagian Muhaqqiqin menjelaskan bahwa hadis ahad hanya wajib diamalkan dalam urusan amaliah, ibadah, kaffarat dan hudud, namun tidak digunakan dalam urusan akidah.

e.Imam syafii berpendapat bahwa adis ahad tidak dapat menghapuskan suatu hokum dari hokum-hukum Al-Quran.

f.Ahlu zhahir tidak membolehkan mentakhsiskan keumuman ayat Al-Quran dengan hadis ahad.[3][15]

3.Macam-macam hadis ahad

Hadis ahad, bila ditinjau dari segi jumlah perawi dalam sanadnya, dibagi menjadi dua macam, yaitu hadis aziz dan hadis gharib.

 

a.Hadis aziz

1.Pengertian

Menurut bahasa, kata al-aziz berarti sedikit atau langka, kuat atau hebat. Hal inni agaknya karna kelangkaannya dan terkuatkan dengan adanya jalur lain. Menurut istilah, hadis aziz adalah hadis yang pada setiap thabaqat sanadnya diriwayatkan tidak kurang dari dua perawi.

2.Contoh hadis aziz

Sebagai contoh hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abi Hurairah:

لا يؤمن احدكم حتى اكون احب اليه من ولده ووالده والناس اجمعين

“Tidaklah beriman seseorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri, orang tuanya, puteranya dan manusia semuanya”

Hadis di atas diterima oleh sahabat anas bin Malik dari Nabi SAW dan diriwayatkan kepada dua orang, yaitu qatadah dan Abdul Aziz bin Shuhaib. Dari Qatadah diterima oleh 2 orang pula, yaitu husein al-muallim dan syu’bah. Dari abdul Aziz diriwayatkan oleh 2 orang, yaknni abdul waris dan ismail bin Ulayyah. Seterusnya dari Husein diriwayatkan oleh Yahya bin said, dari syu’bah diriwayatkan oleh Adam, Muhammad bin Ja’far dan juga oleh Yahya bin Said, dari Ismail diriwayatkan oleh zubair bin harb dan dari Abdul Waris diriwayatkan oleh Ibn al-musanna dan Ibn Basysyar, sampai kepada Al-Bukhari dan Muslim.

b.Hadis gharib

1.Pengertian

Menurut bahasa, al-gharib adalah kata sifat yang berarti menyendiri. Menurut istilah,hadis gharib adalah hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi. Artinya, suatu hadisbyang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkan, baik pada setiap thabaqat sanad, sebagian atau salah satunya.

2.Al-fard

Sebagian ulama membedakan al-gharib dengan al-fard. Al-hafizh Ibn Hajar Al-asqalani menganggap keduanya sama menurut bahasa dan istilah, namun beliau menyatakan ahli istilah membedakannya bila dilihat dari segi banyaknya pemakaian. Kebanyakan mereka memakai sebutan Hadis fard untuk haadis fard muthlak dan hadis gharib untuk hadis fard nisbi.

3.Macam-macam hadis gharib

dari esgi sifat penyendiriannya, hadis gharib terbagi menjadi 2 macam, yaitu gharib muthlak dan gharib nisbi.

a.Gharib mutlak

Pengertiannya adalah hadis yang sifat penyendiriannya ada pada sanad, yakni hadis yang pada asal sanadnya hanya diriwayatkan seorang perawi. Seperti hadis:

انما الاعمال بالنيات

Hadis ini diriwayatkan sendiri oleh Umar bin Al-khattab dan justru sampai pada akhir sanad tetap diriwayatkan oleh seorang perawi. Memang ada hadis yang kemudian pada thabaqat selanjutnya diriwayatkan oleh beberapa perawi.

b.Gharib nisbi

Pengertiannya, hadis yang sifat penyendiriannya terletak pada sifat-sifat atau keadaan tertentu dari seorang perawi, bukan jumlah perawi. Sifat ini terletak pada beberapa hal, misalnya:

1.Keadilan dan kedhabitan perawi, seperti perkataan seorang ahli hadis:

لم يروه ثقة الا فلان

hadis ini tidak diriwayatkan oleh perawi tsiqah kecuali si fulan

2.Periwayatannya dari orang tertentu, seperti ucapan ahli hadis:

تفرد به فلان عن فلان

si fulan meriwayatkan hadis secara sendiri dari fulan atau hanya dia sendiri yang meriwayatkan dari si fulan

3.Tempat atau kota tertentu, seperti ucapan mereka:

تفرد به اهل مكة او اهل الشام

hadis ini hanya diriwayatkan penduduk Makkah atau penduduk syam

 

 

4.Pembagian hadis gharib

Dari letak penyendiriannya, ulama membagi hadis gharib menjadi 2 macam, yaitu:

a.Gharib pada sanad dan matannya

seorang perawi meriwayatkan sebuah matan hadis yang berbeda dengan matan hadis yang diriwayatkan perawi selainnya.

b.Gharib pada sanadnya saja

sebuah hadis dengan matannya yang masyhur, diriwayatkan oleh banyak sahabat, tetapi seorang meriwayatkannya dari sahabat lain. [16]

 

 


.

 


[1][13] Mahmud Thahhan, Intisari Ilmu Hadis,UIN Malang PRESS

[2][14] T.M Hasbi As-siddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis, Bulan Bintang, Jakarta, 1958, h.68

[3][15] M.agus Solahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis, Pustaka Setia, Bandung,2009, h.140-141

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: