Mari Merenungi Perubahan

Mari Merenungi Perubahan

by:MuslimLink

 

Manusia tidak akan pernah berpikir tentang perubahan, kecuali jika ia menyadari bahwa di dalam kehidupannya terjadi kerusakan. Paling tidak, ia menjumpai fakta yang tidak sesuai dengan yang ia kehendaki. Untuk menyadari kerusakan di sekelilingnya, mau tidak mau manusia perlu senantiasa melihat, mendengar, merasa, atau pun meraba. Dengan kata lain perlu adanya penginderaan terhadap fakta. Penginderaan terhadap fakta berbeda dengan penginderaan terhadap dinginnya salju atau panasnya api yang bersifat fisik. Setiap manusia yang normal akan memberikan komentar yang sama jika ditanya bagaimana rasanya memegang bara api. Namun bisa jadi akan ada sepuluh macam jawaban dari sepuluh orang yang berbeda ketika mereka dimintai komentarnya tentang kerusakan ekonomi negara ini.

Dalam hal ini, yang berbeda bukanlah fakta yang dihadapi, tetapi kriteria yang dipakai untuk menilai fakta tersebut. Kriteria ini dipengaruhi oleh pemikiran pendahulu (al-fikr as-sabiq) dari tiap-tiap orang. Namun demikian, adanya kesadaran terhadap kerusakan dan pemikiran pendahulu saja tidaklah cukup untuk melakukan perubahan. Masih diperlukan satu unsur lagi, yakni kesadaran terhadap fakta pengganti yang akan menggantikan fakta yang rusak. Setelah tiga komponen ini tercakup, selanjutnya manusia dituntut untuk melakukan aktivitas sebagai tindak lanjut dari proses berpikirnya.

Islam sebagai ideologi (mabda’) yang sempurna tidak membiarkan satu permasalahan pun luput dari pembahasannya. Allah menegaskan hal ini dalam Q.S An Nahl:89. Karenanya di dalam Islam terdapat pula konsep tentang perubahan, mencakup perubahan parsial (ishlah) serta perubahan total dan fundamental (taghyir). Islam telah menunjukkan tatacara perbaikan parsial tatkala realitas memang mengharuskan hal itu.

Sebaliknya, Islam juga telah menentukan tatacara perbaikan total jika fakta yang ada memang menuntut hal itu. Ini bukan berarti bahwa fakta merupakan sumber hukum, karena hukum tentang dua keadaan tadi tetap milik Allah SWT. Harus dipahami bahwa fakta tetap merupakan obyek hukum, hanya saja fakta yang berbeda bisa memiliki hukum yang berbeda pula. Ibarat tiap jenis penyakit yang membutuhkan obat yang spesifik pula. Karena itu, kembali ditekankan pentingnya aktivitas memahami fakta agar kerusakan yang sebenarnya bisa diketahui. Bukankah diagnosa yang salah dari seorang dokter bisa berakibat fatal bagi pasiennya?

Perbaikan parsial (thariqah ishlahiyah) dapat dicontohkan ketika kita menasehati saudara kita yang melalaikan shalat fardlu. Sedangkan perbaikan total (thariqah taghyir) berlaku ketika kita mendakwahi seseorang yang murtad. Pada kasus pertama, perubahan tersebut hanya menyentuh cabang-cabang dari asas (aqidah) seorang individu. Tujuan ishlah tidak lain untuk memperbaiki, membersihkan, atau memperkuat asas tersebut sehingga bisa memperkuat pengaruh aqidah pada derivat-derivat pemikirannya. Sedangkan pada kasus kedua, perubahan bertujuan untuk mencabut asasnya yang rusak dan menggantinya dengan asas baru yang shahih (aqidah Islam). Tentu tidak relevan jika kita menasehati obyek kedua untuk sholat karena ia tidak meyakini aqidah Islam sebagai asas, apalagi cabang syariat-syariat yang terpancar dari asas tersebut.

Kedua konsep perubahan di atas tidak hanya berlaku bagi individu, melainkan juga bagi masyarakat maupun negara. Jika kita merefleksikan kondisi umat saat ini dengan deskripsi mereka di dalam Al Quran, maka akan kita temui kontradiksi yang nyata. Dalam kondisi seperti ini, diperlukan upaya perubahan untuk mengembalikan jati diri kaum muslim, sebagaimana yang telah digariskan oleh Zat yang menciptakan manusia. Pertanyaan yang muncul adalah, kalaulah kita harus berubah, apakah saat ini kita cukup melakukan perbaikan yang bersifat tambal sulam (ishlah) ataukah harus melakukannya secara total; tentu dengan asumsi bahwa yang menentukan pilihan terhadap dua hal tersebut adalah nash-nash syara’ bukan hawa nafsu maupun kemaslahatan yang ditentukan oleh akal manusia (Lihat: QS.Al A’raf:57 dan Al Jatsiyah:18).

Untuk menentukan arah dan metode perubahan, sekali lagi diperlukan adanya eksplorasi terhadap fakta (tahqiq al-manath). Dengan memahami fakta secara tepat – tentu dengan taufik serta inayah Alah – kita dapat menerapkan hukum-hukum syariat terhadap fakta secara tepat pula. Dengan begitu, kita dapat memastikan apakah aktivitas yang kita lakukan ditujukan untuk mengubah fakta atau sekedar memperbaikinya. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita dalam melakukan perubahan di bumi-Nya.

 

Wallahu a’lam bi ash-showab.

 

sumber: Muslim Link

Forum Studi Pemikiran Islam (FOSPI)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: