Monthly Archives: Maret 2013

Baayun Anak

Baayun Anak

Baayun anak adalah tradisi ibu-ibu masyarakat banjar jika menidurkan anak bayinya dengan cara mengayun, sezak zaman dahulu sampai sekarang. Ayunan itu terbuat dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung-ujungnya diikat dengan tali haduk (ijuk). Ayunan ini biasanya digantungkan pada palang plapon diruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur, dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal hantu-hantu atau penyakit yang mengganggu bayi. Posisi bayi yang diayun ada yang dibaringkan dan ada pula posisi duduk dengan istilah di pukung. Mengayun anak ini ada yang mengayun biasa dan ada yang badundang. Mengayun biasa adalah mengayun dengan memegang tali ayunan, yang lebih menarik adalah menidurkan anak ini sang ibu sambil bernyanyi, bernyanyi dengan suara merdu berayun-ayun atau mendayu-dayu. Lirik lagu ini sangat puitis. Liriknya seperti ini :

Guring-guring anakku guring

Guring diakan dalam pukungan

Anakku nang bungas lagi bauntung

Hidup baiman mati baiman

Isi lirik ini adalah pujian anaknya yang cantik (cakap) dan do’a agara anaknya kelak kuat imannya dalam agama sampai akhir hayatnya. Seandainya anaknya masih rewel tidak juga mau tidur, biasanya sang ibu berkata :

His I cacak I anakku jangan diganggu inya sudah guring

Meayun anak ini terkadang sengaja diadakan pada acara mauludan yakni tanggal 12 Rabiul Awwal. Dengan maksud agar mendapat berkah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada perkembangannya, maayun anak ini menjadi sebuah tradisi budaya yang setiap tahun digelar dengan istilah “Baayun Maulud”. Baayun maulud ini sungguh berisi pesan-pesan religiusitas, filosofis, dan local wisdom (kearifan local).

Baayun maulud ini setiap tanggal 12 Rabiul Awwal yakni menyambut dan memperingati maulud Rasul, oleh masyarakat desa banua Halat kecamatan Tapin Utara selalu mengadakan upacara baayun anak atau baayun maulud. Tradisi budaya ini mulai populer sejak tahun 1990-an.